05/03/18
03/03/18
Selalu ada Hikmah disetiap Peristiwa
Assalamualaikum,
holaaa, it’s Gita! Gimana nih kabar kamu semua readers? Wkwkwk, so sorry ya,
ini kenapa jadi kayak opening radio.
Untuk kamu yang
mungkin sudah ngikutin blog saya, atau pernah baca gitu ya, pasti sudah tahu
kalau saya pernah mengikuti recruitment radio announcer di salah satu radio
swasta di kota saya.
Ini linknya : Pengalaman Tes Menjadi Penyiar Radio
Namun sayang
sekali, saudara-saudara, saya sudah sampai tahap training, mungkin sudah hampir
2 bulan, tetapi saya mengundurkan diri karena terhalang izin papski. Huhuhu. *nangis di pojokan*
Awalnya saya
02/03/18
Pertama Kali jadi Operator Live Report Radio
Mungkin kalau kalian membaca judul blog saya yang lainnya, beberapa selalu diselipkan kalimat “pertama kali”, benar sekali, karena yang pertama selalu memberikan kesan dan saya selalu mengapresiasi dan memberikan ruang khusus untuk itu.
Mungkin kalian bisa baca blog saya yang berjudul Pengalaman Pertama Kali Siaran Tandem, Pengalaman Tes Menjadi Penyiar Radio, Referensi untuk Materi Siaran Radio . Next, saya ingin menulis pertama kali siaran on air dan kesalahan-kesalahan yang saya buat. Haha.
Kenapa radio? Karena saya baru saja terjun ke media ini. Saya adalah newbie di dunia penyiaran, tetapi saya sangat menyukai dunia ini, dan saya berniat untuk terjun dan menyelam lebih dalam. Asik. Nah, tulisan ini murni atas dasar pengalaman saya, saya menulis untuk menuangkan pikiran dan menuju Gita yang lebih produktif. Hahaha.
Jadi, hari ini, 2 Maret 2018 saya mengudara di radio tempat saya bekerja dari jam 07.00-15.00 wib. Sebenarnya itu bukan jam kerja saya, hanya saja saya menggantikan teman yang tidak bisa on air. Dan kebetulan hari itu, radio tempat saya bekerja ini akan melakukan live report untuk acara tabligh akbar seorang ustadz yang lagi top banget, Ustadz Abdul Somad, a.k.a UAS yang diselenggarakan di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia.
Sebelum tim live report menuju lokasi, saya sudah diberi arahan untuk stand by ketika nanti akan diarahkan ke lokasi tabligh, di ekspetasi saya, saya pasti bisa melakukan dengan baik, karena untuk hal reporting, saya sudah pernah melakukannya dengan teman-teman, namun saya melupakan satu hal; Ini Radio, ini Live, radio itu bagaimana kita bisa membangun theatre of mind pendengar. Sedangkan yang saya lakukan selama ini, ialah off air, rekam-salah-ulang, begitu seterusnya sampai menemukan hasil yang diinginkan.
Ketika live report, kami terhubung dengan penyiar di lokasi dengan telepon, jadi, ketika tim live report ingin mengudara, saya harus mengalihkan ke telepon dan menyampaikan opening ala-ala reporter di Tv, tapi tadi, terjadi sedikit miss communication antara saya dan tim live report, sehingga agak kaku ketika saya mempersilakan mereka untuk mengambil alih.
Walaupun tidak masalah sebenarnya, hal itu biasa terjadi, ketidaksempurnaan memang milik manusia. Eits, tapi jangan selalu memaklumi ketidaksempurnaan itu, terlebih menjadikan ketidaksempurnaan sebagai kambing hitam agar kita bisa melakukan kesalahan. C’mon dude, kalo bisa memberikan yang terbaik, kenapa enggak?
Walaupun live report hari ini hanya dilakukan 2 kali open vocal oleh penyiar diseberang sana, tapi memberikan begitu banyak pelajaran untuk saya yang newbie ini. Bekerja di media menuntut kita untuk aktif, kreatif, dan inovatif. Sebisa mungkin kita harus bisa improvisasi. Terlebih radio, seperti saya bilang di atas, adalah bagaimana menciptakan theatre of mind dari pendengar.
Jadi, kesimpulannya, pertama kali saya menjadi operator live report ini tidak buruk, hanya saja, seharusnya saya bisa lebih baik dari ini. Tapi, karena saya orangnya kalau sudah grogi, deg-degan, suka parnoan, dan terjadilah kagok yang berlebihan. Menjadi operator ataupun leader a.k.a nahkoda alat ketika siaran itu susah-susah gampang, karena banyak yang harus kita kendalikan, sambil terus cuap-cuap karena ketika on air jangan sampai hening, dan otak juga harus terus bekerja memikirkan apa lagi yang harus disampaikan, sambil menaik turunkan mixer. Ah, seru sekali pokoknya. Menjadi tantangan tersendiri, mungkin saya akan bercerita di lain waktu~
Tapi, PR untuk saya adalah how to be a good announcer and how to make myself relax.
27/02/18
Pengalaman Pertama Kali Siaran Tandem!
Halooo, mulai hari ini sepertinya
saya ingin berkomitmen untuk selalu menulis dan memposting tulisan di blog ini
minimal 3 kali seminggu. Dan tulisan yang akan saya posting pun bermacam ragam.
Sebelumnya, happy reading ya, hope you enjoy it!
Jadi, cerita ini dimulai ketika
saya pertama kali siaran radio on air
secara tandem (berdua). Siaran tandem ini adalah siaran yang dilakukan secara
duet oleh penyiar. Saya merupakan penyiar baru di salah satu radio swasta di
Kota saya (Jambi). Jadi, saya harus banyak latihan agar semakin lancer ketika
siaran. Meskipun saya sudah mendapat program siaran sendiri. Nah, untuk
memperlancar siaran itu, saya diberikan program tandem dengan penyiar senior, fyi, dia sudah 21 tahun berkecimpung di
radio, dan sekarang, usia saya 20 tahun J
See? Betapa kebanting ketika
saya siaran dengan beliau hahaha. Ditambah lagi olah vokalnya sudah bagus, kosa
katanya kaya, dan bahasanya pun tersusun rapi, ditambah lagi beliau asyik dalam
mengimbangi. Jadi, menurut saya, tandem ini kuncinya ialah bagaimana antara
penyiar dapat saling mengimbangi, melengkapi, dan terjadi tiktok atau chemistry
diantara keduanya supaya siarannya hidup dan tidak terkesan kaku.
Pertama kali saya siaran tandem dengan
penyiar senior itu, saya minta pendapat dengan teman dan keluarga yang
mendengarkan saya siaran. Jadi, kata mereka, suara saya dan suara penyiar
senior itu, sebut saja A, kurang kawin. Pun begitu dengan interaksi kami, saya
hanya seperti mengiyakan perkataan beliau, ya maklum lah ya baru. Hehehe.
Selain meminta pendapat, saya
juga mendengarkan rekaman siaran kami malam itu, dan benar sekali, kurang ada
tiktok (chemistry) antara kami
berdua. Ditambah lagi suara si A ini gurihnya bukan main, berpower dan ulala pokoknya. Sedangkan saya, yah, tidak sebagus beliau. Tapi,
saya percaya dengan “Learning by doing”.
Tapi, kalau saya boleh memilih sih, saya lebih suka siaran sendirian
ketimbang siaran tandem. Karena menurut saya, untuk mendapatkan tiktok yang
baik itu harus selalu terjadi komunikasi antara keduanya. Mungkin penyiar
senior saya itu bisa mengimbangi, tapi, tetap saja saya ketara anak barunya
hihi. Jadi, saya memutuskan saya lebih baik siaran sendirian, karena semasa training di radio swasta lainnya dulu,
saya seringkali disuruh siaran tandem, dan ya, saya tidak begitu suka, so, I’m
a single fighter.
Karena sangat sulit untuk saya
bisa terjadi obrolan yang begitu “ngocol” dengan orang yang baru saya kenal. Saya
bisa secair-cair mungkin, itu dengan orang yang benar-benar sering interaksi
dengan saya, atau yang sudah kenal lama. Tapi, saya bukan introvert, bukan juga
ekstrovert, saya diantara keduanya, saya bisa menjadi keduanya :D
Jadi begitulah pengalaman pertama
saya siaran tandem:
1. Berat
sebelah
2. Kurang
kawin
3. Kurang
PD
4. Olah
vocal yang belum baik
Nah, mungkin
besok-besok setelah beberapa kali siaran tandem, saya ingin menulis tips
bagaimana sih cara siaran tandem yang baik. Jadi, ditunggu aja ya, thank you J
Oh iya, buat
kamu yang mau tahu gimana pengalaman saya tes menjadi penyiar radio, klik link
ini ya: Pengalaman Tes Menjadi Penyiar Radio
Dan, untuk kamu
yang mau tahu biasanya saya mencari materi siaran dimana? Klik link ini: Website Referensi Materi Siaran
Note: Saya
masih newbie dalam siaran, tapi hanya ingin berbagi apa yang saya tahu saja,
bukan sok menggurui, apalagi sombong. Dengan menulis, saya juga bisa semakin
ingat.
Ada saran mau
berbagi soal apa lagi? Komen yaaa..
25/02/18
IDN Times Pahlawanku ketika Siaran Radio!
Saya
adalah penyiar radio (newbie) di kota tempat saya tinggal (Jambi). Ketika siaran,
seorang penyiar tentu harus menyampaikan materi kepada pendengar, menjadi
seorang penyiar tidaklah gampang, karena dituntut untuk selalu menyampaikan
hal-hal menarik dan terkini, agar tidak kehabisan bahan saat siaran, seorang
penyiar hendaknya membaca. Karena dengan membaca, tentu kita dapat menceritakan
ulang, dan menjadi referensi yang dapat kita sampaikan kepada pendengar.
Selain
saya memang dituntut untuk banyak tahu akan hal-hal baru atau yang sedang
terkini, memang pada dasarnya, saya hobi membaca, terlebih mengenai lifestyle dan artikel-artikel ringan.
Menjadi penyiar radio menurut saya unik, dan memiliki tantangan tersendiri.
Terlebih, saya siaran tidak hanya di radio swasta (komersil), tetapi saya juga
siaran di radio kampus (komunitas). Kedua jenis radio tersebut tentulah
berbeda, pun begitu dengan materi yang saya sampaikan. Ketika saya menyampaikan
isi saat siaran di kampus, biasanya lebih ke informasi formal, dan ketika saya
siaran di radio tempat saya bekerja, lebih informal.
Bayangkan,
berarti saya harus banyak membaca dong, ya? Hahaha. Betul sekali, sebelum on
air, biasanya saya sudah menyiapkan materi apa-apa saja yang akan saya bacakan.
Dan, saya sangat terbantu sekali dengan adanya website IDN Times, karena sering
kali saya menyampaikan apa yang telah saya baca dari website tersebut.
Pilihan
artikelnya pun beragam, jadi saya bisa memilah manakah yang cocok dengan
program saya. Perlu diketahui, di radio tempat saya bekerja, saya mendapat
program anak muda, yang siaran dari pukul 15.00-18.00 wib. Jadi, konten yang
harus saya sampaikan adalah mengenai kids
jaman now, yang bisa mendidik sekaligus menghibur para pendengar di sore
hari. Karena bagi saya, meskipun materi yang saya sampaikan mengenai cinta atau
suatu hubungan, tetapi tetap harus mendidik. Asik. Biasanya ketika membawakan program ini, saya sering membaca
artikel di IDN Times pada tab Life, dan Hype karena beritanya cocok dengan apa yang seharusnya saya sampaikan. Pada tab Life ini, saya banyak mendapatkan referensi untuk materi yang hendak saya sampaikan ketika siaran, juga menambah wawasan saya soal kehidupan, inspirasi dan motivasi menjadi satu kesatuan di tab ini. Dan untuk materi hiburan ketika saya siaran, saya lebih sering membaca tab Hype, karena enterteint, yang sedang viral semuanya ada disini, saya sangat terbantu sekali hehehe. Wah, terima
kasih IDN Times! ^^
Tulisan
yang dimuat pada website IDN Times pun dikemas secara ringkas dan menarik, jadi
improvisasi ketika saya siaran, tidak akan begitu sulit. Yang saya suka juga
pada website ini adalah selalu up to date,
dan gaya bahasanya kekinian sekali. Jadi, saya juga banyak belajar dari sini,
hehehe. Karena menjadi penyiar radio itu, kata teman saya, “Wah, kamu pintar
banget ya, saya banyak dapat ilmu dengerin kamu siaran.” Jadi, sepertinya
penyiar radio itu smart gitu, ya.
Padahal sesungguhnya adalah, website tempat dimana saya mengais informasi itulah
yang pintar, hehehe (Baca: IDN Times).
Sedikit
cerita lagi mengenai siaran di radio tempat saya bekerja, adalah saya terkadang
harus siap menggantikan penyiar yang tidak bisa mengisi programnya. Dan itu
menjadi tantangan juga bagi saya, karena tentu tiap program memiliki target
pendengar dan materi yang berbeda. Karena pada program yang saya bawakan itu
mengenai relationship atau friendship, tetapi terkadang saya harus
membawakan program teman saya yang sesama penyiar, mengenai hal yang saya tidak
ketahui, seperti K-POP, tips, parenting,
entrepreneur dan lainnya. Nah, untungnya zaman sekarang sudah dimudahkan,
terlebih lagi saya sudah punya website andalan, yang terpercaya dan sudah
terbukti kefaktualannya.
Intinya
IDN Times ini menyuguhkan informasi yang mudah dimengerti dan pengemasannya
juga menarik, bahkan kita juga bisa menulis artikel, karena telah di sediakan platform untuk komunitas penulis. Dan jika
dikumpulkan poin, maka bisa mendapatkan uang. Wah, harus banget dicoba nih.
Dan
lagi, website IDN Times ini menyediakan berbagai informasi, terlengkap deh,
ketika saya sedang siaran dikampus, dan mengharuskan untuk menyampaikan
informasi yang sedikit berat, seperti pemilihan umum, ataupun politik, dan
sebagainya, ada. Jadi, saya tidak perlu repot-repot untuk klik webste lain,
karena disini sudah lengkap. Paket komplit, informasi lengkap dan jelas,
pengemasannya menarik. Well, saya sebagai penyiar baru, sangat terbantu..
Ditambah lagi dengan rekomendasi artikel yang ditampilkan
pada artikel yang sedang dibaca, membuat pembaca semakin penasaran dengan link
artikel yang telah direkomendasikan. Jadi, saya sebagai penyiar radio dan
sebagai seorang yang haus akan informasi (eak), sangat terbantu dengan website
IDN Times ini. Ini cerita ku, mana ceritamu? Hehehe.
langsung check this out guys : IDN Times
21/01/18
Ssssttt! Berucap yang baik-baik aja yuk!
“Ucapan adalah doa”.
Sering sekali saya mendengar kalimat seperti itu, tentunya memang kalimat
itu tidak asing lagi ditelinga kita. Bahkan kita sendiri sering spontan
mengatakan “Jangan bicara begitu, ucapan adalah doa.” Ketika mendengar orang
mengatakan hal yang tidak baik atau tidak enak didengar.
Pada Al-Qur’an, surah Al Ahzab ayat 70-71, Allah berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,
niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.
Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat
kemenengan yang besar” (Al-Ahzab : 70-71)
Jelas bahwa Allah menyeru untuk mengucapkan yang benar. Artinya, bicaralah
yang baik-baik, agar apa yang diucapkan, benar akan kembali kepada yang
mengucapkan.
***
Suatu pagi, saya pergi dengan teman saya ke suatu tempat untuk mengikuti
serangkaian kegiatan. Namun kami sedikit terlambat karena suatu hal. Lantas,
ketika diperjalanan, teman saya ini panik dan cemas karena datang terlambat.
“Kak, nanti kalau ditanya kenapa
terlambat, bilang aja ban motor kita bocor ya.”
“Bocor? Serius? Kenapa gak jujur aja Li?”
Nama teman saya Lian.
“Gak papa lah kak, biar aman.”
“Hmm.. Oke deh.” (Harap-harap cemas)
***
Sore harinya, ketika sedang asyik melantunkan lagu bersama Lian, kami
sontak melihat ke arah ban belakang motor Lian, karena sedikit ada goyangan, padahal
gak ada musik.
“Li, kayaknya ban motor kamu bocor deh.”
Akhirnya Lian menepikan motor dan benar sekali bannya bocor. Di sore hari
yang panas itu, kami mendorong motor sambil bercucuran keringat ditengah padat
merayapnya kendaraan yang lewat.
Sesampainya di bengkel, kami berkeluh kesah dan tertawa karena teringat
percakapan pagi tadi.
“Tuh kan Li, ini karena niat mau bohong nih.” Saya membuka omongan sambil tertawa
.
“Iya kak, malah di kasih beneran ya
sama Allah.” Lian tak hentinya
tertawa geli.
Sembari menunggu ban motor di tambal, kami membahas mengenai kebohongan
kecil yang kami rencanakan. Padahal, ketika sampai ditempat dilaksanakannya
kegiatan tersebut, tidak ada menyinggung soal keterlambatan.
Yaa begitulah, kebohongan dan ucapan jelek yang membawa petaka.
Awalnya saya tidak terlalu menanggapi kalimat “Ucapan adalah doa”.
Tapi
setelah kejadian yang saya alami tersebut, saya benar-benar mengindahkan
kalimat “Ucapan adalah doa”.
Pada kasus di atas, saya dan Lian seperti berdoa
agar ban motor yang kami kendarai bocor, dan dengan mudah Allah mengabulkannya,
toh?
Hmm.. Saya ini pacar Charlie Puth lho.
Yaa, mana tahu nanti Allah memberikan saya suami yang wajahnya seperti
Charlie Puth, ya setidaknya, setengahnya deh! :3
Ucapan adalah doa ceunah! Jadi
saya ingin berucap yang baik-baik saja, cheers!
J
PS: Jangan sekali-kali berucap yang bukan-bukan, bahaya. Apalagi berbohong.
20/11/17
Rindu...
Lagu i still love you dari the overtunes menemani sore ku kali ini, masih dengan pikiran yang berkecamuk, dan masih dengan rasa; rindu. Sebulan lebih kita tanpa komunikasi, aku hanya bisa memperhatikanmu secara diam-diam dari kejauhan. Memasang ekspresi tak peduli padahal sebenarnya sangat peduli, itu tidak mudah.
Sepertinya kau tampak lebih bahagia setelah tidak bersamaku. Benar begitu? Ah, baguslah. Aku pun bahagia melihatnya. Kau bisa tertawa begitu lepas, tanpa beban. Bahkan sepertinya tak sekalipun kau membuka ruang lama itu?
Kau sudah benar-benar lupa dan menghilangkan rasa itu, ya? Jadi hanya aku saja yang masih menyimpan rasa itu dalam-dalam, masih nyaman mengingat semua kenangan dan selalu memikirkannya ketika hendak tidur?
Apa kau sudah menemukan hati yang baru? Sehingga untuk men-chat saja kau tak mau. Bahkan, untuk sekedar melihat status yang kuunggah di sosial media saja, kau tak lagi sudi?
Oh, mungkin hanya aku saja yang masih berharap kau akan tetap seperti dulu meski kini kita tak lagi bersama. Kau tahu? Aku rindu. Pengin sih memulai untuk bertukar kabar, hanya saja aku takut, karena kau sudah tidak respect lagi.
Terkadang aku berpikir mengapa harus berakhir begini? Tadinya dekat sekali, tapi akhirnya menjadi seperti orang asing yang tak ingin saling mengenal.
Terkadang aku berpikir mengapa harus berakhir begini? Tadinya dekat sekali, tapi akhirnya menjadi seperti orang asing yang tak ingin saling mengenal.
***
27/10/17
Jangan mengubah orang untuk berubah menjadi lebih baik ‘versi’ kita.
Banyak
manusia di muka bumi ini. Namun tentu tidaklah sama dalam berpendapat. Sebuah
keluarga dalam satu rumah pasti sering cek-cok karena berbeda pendapat. Seperti
kata orang-orang, rambut sama hitam, hati siapa yang tahu. Begitulah, manusia
berbeda dalam sudut pandang. Perbedaan pendapat bisa terjadi pada siapa saja, dengan
teman, saudara, sahabat, pacar, rekan kerja bahkan orang tua.
Perkara
perbedaan pendapat, saya sering bertentangan dengan ‘Beliau’, entah mengapa kami selalu beradu argumen. Bahkan mengenai
hal-hal kecil sekalipun.
Terkadang
saya merasa berdosa harus selalu menentang pendapat beliau, yang memang itu
benar, benar sekali. Tetapi tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan.
Merasa
egois, karena jarang sekali menuruti apa yang beliau anjurkan. Tapi, begitulah,
setiap manusia tentu memiliki pilihan hidup sendiri. Masing-masing pribadi
memiliki penilaian dan sudut pandang yang berbeda. Terlebih soal mimpi, tentu
kita memiliki mimpi yang berbeda-beda. Tidak bisa memaksakan mimpi si A kepada
si B, pun sebaliknya. Belum tentu apa yang dianggap benar oleh kita, dianggap
benar pula oleh orang lain, dan sebaliknya. Itu kalimat yang sering beliau
katakan kepada saya. Saya menyetujuinya.
Ketika
beradu argumen dengan ‘Beliau’,
beliau selalu memberikan saran dan arahan kepada saya, tidak hanya berdebat
soal perbedaan. Namun terkadang saya merasa tidak nyaman, karena ajakan yang
dibingkai oleh beliau, bukan hanya sekedar saran, namun juga seperti ajakan
yang memaksa. Saya seperti digiring untuk mengikuti keinginannya. Smooth sekali, tapi saya tetap menyadari
itu.
Dari
sana saya belajar bahwa jangan pernah menuntut orang untuk berubah dan
mengikuti persepsi kita, memilih pilihan kita, hal yang kita inginkan.
Dalam hal ini, banyak tanda
kutip, ya.
Jangan mengubah orang untuk
berubah menjadi lebih baik ‘versi’ kita.
Ketika
si A ingin menjadi pekerja kantoran, namun Anda lebih ingin menjadi pebisnis,
karena berbeda dengan prinsip atau yang Anda inginkan, lantas, apakah pilihan A
itu tidak baik? Tidak juga, kan?
Apakah Anda harus mendorong si A untuk mengikuti pilihan Anda?
Memberi
saran, masukan dan ide sangat boleh, tetapi hargai pilihan yang mungkin telah
diperjuangkan matang-matang oleh orang tersebut.
Karena
kembali lagi, apa yang dianggap baik oleh kita, belum tentu baik bagi orang
lain dan sebaliknya.
Jadi,
jangan pernah melihat sesuatu hanya dari sebelah sisi, tapi lihatlah dari dua
sisi. Mungkin dari sisi yang berbeda, akan terlihat suatu kebaikan yang HQQ.
06/10/17
Awas, Jangan Berdiri di Depan Pintu!
Bagaimana ketika kamu dekat
dengan seseorang, melewati banyak hal, bercerita banyak kisah, berbagi dan
saling mendukung dalam setiap peristiwa. Kamu merasa seperti dianggap penting
olehnya, selalu kamu yang menjadi tujuan ketika dia melewati sesuatu yang baru.
Selalu menanyakan kabar, dan tak lupa memberikan bumbu-bumbu perhatian di
setiap pesan singkat. Bisa saja, “seseorang” itu adalah teman, sahabat,
saudara, gebetan, pacar, atau... teman rasa pacar :D
Tadinya nyaman-nyaman saja dengan
situasi dan kondisi yang demikian, karena kamu masih menganggapnya teman biasa,
atau sekedar teman “chat” untuk meramaikan HP. Tapi semua berubah saat negara
api menyerang, *eh.
Kamu mulai merasakan perasaan
yang berbeda. Setiap hari seperti ada perasaan menunggu pesan singkat dari dia,
merindukan candaannya yang sebenarnya sangat-sangat membuang waktu! Selalu
ngecek handphone, padahal si dia tak kunjung memberi kabar.
Apa itu namanya PHP? Iya PHP,
singkatan dari Pemberian Harapan Palsu. Apa dia hanya datang ketika butuh? Apa
dia hanya datang ketika sedang kesepian? Sedang butuh teman chat? Atau dia
sudah menemukan teman chat yang lebih asyik? Tentu pertanyaan seperti itu akan
muncul, karena ketika dia membuat kamu nyaman, kamu hanya takut jatuh cinta
sendirian, *tsah. Chat saja sama simsimi, biar gak baper :D. Ya gak? Hehehe.
Tapi....setelah
pertanyaan-pertanyaan itu muncul, tak lama dia datang lagi seperti sedia kala,
meski tidak chatingan sampai benar-benar membuang waktu seperti dulu. Kamu
berpikir mungkin kemarin dia sibuk atau sedang ada sesuatu yang harus
dikerjakan sehingga tidak sempat memberi kabar. Tapi bukankah jika sayang,
sesibuk apa pun tetap akan memberi kabar? Hmmm...
Dan kamu masih mempunyai perasaan
yang sama, tidak berubah. Dia pun begitu, menunjukkan sikap bahwa kamu adalah
harapannya. Kamu tetaplah yang penting baginya. Tapi dia tetap tidak memberikan
kepastian, apakah dia sayang, suka, atau cuma sekadar butuh sama kamu? Dan kamu
tidak berani untuk mempertanyakan seperti apa posisi mu dihatinya. Kamu tetap mengikuti
alur, meski dengan menahan sakit di dada akan sebuah kepastian. Tidak berani
bertanya seperti apa posisimu karena kamu seperti mencium aroma bahwa dia
menyembunyikan sesuatu dari kamu.
Kamu seperti ingin membuktikan
bagaimana sih posisi kamu dihatinya? Tapi dengan cara apa? Apakah harus tetap
menjalani penantian dalam diam ini? Apa harus kode dulu? Ah entahlah.. jadi,
buat kamu yang sedang mendekati perempuan, jangan berdiri di depan pintu ya,
kalau mau masuk-masuk saja, kalau mau keluar ya silakan, jangan menghalangi
jalan bagi orang lain yang ingin masuk :D. Kalau cuman butuh untuk teman chat,
ya sama simsimi aja! Kalau bosan ya bilang, bukan ngilang. Hehehe..
Sumber : Oleh Gita Savana
Sumber : Oleh Gita Savana
Bantu Aku Mempertahankannya..
Kau tahu? Sebenarnya begitu
banyak kisah yang ingin kuceritakan padamu. Begitu banyak pertanyaan yang
bergumpal di otakku dan siap kulayangkan padamu. Namun, semua itu belum sempat
kuungkapkan, karena apa? Kau seperti menunjukkan sikap bosan dan jenuh, kau
seakan selalu ingin mengakhiri pesan singkat itu. Meski begitu, aku selalu
mencoba mencari bahan pembicaraan yang lebih asyik di setiap pesan singkat
kita, karena aku ingin berlama-lama bertukar kabar denganmu.
Kau tahu? Aku rindu masa di mana
kita seperti tidak ingin mengakhiri pesan singkat itu, ketika kau tidak ingin
menutup telepon sampai aku tertidur. Hahaha. Iya, rasanya berlebihan sekali
kita kala itu. Tapi, faktanya aku sangat merindukan masa itu, iya itu masa di
mana kita masih di fase mengenal. Masih lebih banyak ingin tahu satu sama lain,
dan sekarang setelah kau tahu? Apa kau jenuh menghadapiku? Sedangkan aku masih
selalu ingin tahu tentangmu.
Quote galau yang berbunyi “bertahan
sendirian itu sakit”. Dan ternyata itu benar adanya! Sakit sekali
mempertahankan hubungan sendirian, memperjuangkannya sendirian. Padahal dulu,
kau yang memulainya, dan aku tidak membiarkan kau untuk memulai sendirian,
kupermudah jalan itu hingga sekarang aku bertemu pada fase “bertahan sendiri”.
Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu? Apa kau masih menganggap hubungan ini
penting? Sikap acuh tak acuhmu menunjukkan kau telah menemukan kenyamanan yang
baru. Semudah itukah kau berpaling? Hmmmm.
Aku sangat merindukan nada pemberitahuan
darimu, dulu tanpa menunggu, aku selalu menerima pemberitahuan dari nama yang
kuinginkan (baca:kau). Tapi sekarang, aku hanya bisa membaca ulang pesan
singkat kita yang masih tersimpan. Hanya mendengarkan pesan suara yang dulu
selalu kau kirimkan. Perlu kau tahu, ada banyak lelaki yang men-chatku, itu
menandakan bahwa HP-ku tidak sepi bukan? Tapi tetap saja, kabar darimu yang
kunantikan. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana ujungnya ini? Aku belum berani
menanyakan ada apa sebenarnya denganmu. Apa kau sengaja mengujiku? Dan
bodohnya, aku belum ingin mengakhiri hubungan ini, meski kutahu aku hanya
bertahan sendirian. Tapi sampai kapan aku harus bertahan? *Kok kayak lirik lagu
ya* Ya semoga saja aku bisa bersabar mempertahankan hubungan ini sendiri, dan
kesabaran itu membuahkan hasil.
Karena, seperti quote yang pernah
aku baca bahwa “Sabar itu akan indah pada waktunya” kapan waktunya? Ya sabar aja. Hehehe. Dan
lagi, guruku mengatakan bahwa sabar itu tidak ada batasnya, karena kalau ada
batasnya itu berarti jalan, bukan sabar.
Jadi, ya sabar aja. Ga ngerti ya? #boom
Sumber : Oleh Gita Savana
Sumber : Oleh Gita Savana






