Tampilkan postingan dengan label Radio Announcer's Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radio Announcer's Journey. Tampilkan semua postingan

06/04/18

Me and My First Salary as a Radio Announcer

"My first salary is not as big as my daddy's salary, so i have to work smarter. But, actually being a radio announcer is not a job for me, it's my hobby. #Alhamdulillah #Storyoftheday"

Itu adalah status singkat yang kutulis di whatsapp, yang menuai beberapa komentar dari teman-teman ku. Ya, kalau tidak salah tanggal 29 Maret 2018 adalah hari pertama saya gajian sebagai penyiar radio di D Radio Jambi.

Sebenarnya berbicara mengenai gaji, itu bukanlah kali pertama saya mendapatkan uang dari apa yang saya kerjakan. Karena saya juga bisa dibilang sebagai penulis lepas a.k.a freelance writer, jadi saya sudah beberapa kali mendapatkan honorarium dari tulisan yang saya buat.

Tapi, untuk radio, ini kali pertama saya gajian. Ya, karena saya baru bekerja di media; penyiaran. Kalau berbicara gaji, menjadi penyiar radio bukanlah tempat yang tepat untuk mencari gaji. Dari awal saya mulai berkecimpung di radio, tahun 2017 lalu, penyiar senior juga sudah mengatakan jangan mengharapkan gaji seorang penyiar radio. Juga saya baca review dari penyiar yang sering menceritakan gajinya sebagai penyiar, ya, saya paham betul bagaimana gaji penyiar.

03/03/18

Selalu ada Hikmah disetiap Peristiwa

Assalamualaikum, holaaa, it’s Gita! Gimana nih kabar kamu semua readers? Wkwkwk, so sorry ya, ini kenapa jadi kayak opening radio. 

Untuk kamu yang mungkin sudah ngikutin blog saya, atau pernah baca gitu ya, pasti sudah tahu kalau saya pernah mengikuti recruitment radio announcer di salah satu radio swasta di kota saya.


Namun sayang sekali, saudara-saudara, saya sudah sampai tahap training, mungkin sudah hampir 2 bulan, tetapi saya mengundurkan diri karena terhalang izin papski. Huhuhu. *nangis di pojokan*

Awalnya saya

02/03/18

Pertama Kali jadi Operator Live Report Radio

Mungkin kalau kalian membaca judul blog saya yang lainnya, beberapa selalu diselipkan kalimat “pertama kali”, benar sekali, karena yang pertama selalu memberikan kesan dan saya selalu mengapresiasi dan memberikan ruang khusus untuk itu. 

Mungkin kalian bisa baca blog saya yang berjudul Pengalaman Pertama Kali Siaran Tandem, Pengalaman Tes Menjadi Penyiar Radio, Referensi untuk Materi Siaran Radio . Next, saya ingin menulis pertama kali siaran on air dan kesalahan-kesalahan yang saya buat. Haha.

Kenapa radio? Karena saya baru saja terjun ke media ini. Saya adalah newbie di dunia penyiaran, tetapi saya sangat menyukai dunia ini, dan saya berniat untuk terjun dan menyelam lebih dalam. Asik. Nah, tulisan ini murni atas dasar pengalaman saya, saya menulis untuk menuangkan pikiran dan menuju Gita yang lebih produktif. Hahaha. 

Jadi, hari ini, 2 Maret 2018 saya mengudara di radio tempat saya bekerja dari jam 07.00-15.00 wib. Sebenarnya itu bukan jam kerja saya, hanya saja saya menggantikan teman yang tidak bisa on air. Dan kebetulan hari itu, radio tempat saya bekerja ini akan melakukan live report untuk acara tabligh akbar seorang ustadz yang lagi top banget, Ustadz Abdul Somad, a.k.a UAS yang diselenggarakan di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia. 

Sebelum tim live report menuju lokasi, saya sudah diberi arahan untuk stand by ketika nanti akan diarahkan ke lokasi tabligh, di ekspetasi saya, saya pasti bisa melakukan dengan baik, karena untuk hal reporting, saya sudah pernah melakukannya dengan teman-teman, namun saya melupakan satu hal; Ini Radio, ini Live, radio itu bagaimana kita bisa membangun theatre of mind pendengar. Sedangkan yang saya lakukan selama ini, ialah off air, rekam-salah-ulang, begitu seterusnya sampai menemukan hasil yang diinginkan. 

Ketika live report, kami terhubung dengan penyiar di lokasi dengan telepon, jadi, ketika tim live report ingin mengudara, saya harus mengalihkan ke telepon dan menyampaikan opening ala-ala reporter di Tv, tapi tadi, terjadi sedikit miss communication antara saya dan tim live report, sehingga agak kaku ketika saya mempersilakan mereka untuk mengambil alih. 

Walaupun tidak masalah sebenarnya, hal itu biasa terjadi, ketidaksempurnaan memang milik manusia. Eits, tapi jangan selalu memaklumi ketidaksempurnaan itu, terlebih menjadikan ketidaksempurnaan sebagai kambing hitam agar kita bisa melakukan kesalahan. C’mon dude, kalo bisa memberikan yang terbaik, kenapa enggak? Walaupun live report hari ini hanya dilakukan 2 kali open vocal oleh penyiar diseberang sana, tapi memberikan begitu banyak pelajaran untuk saya yang newbie ini. Bekerja di media menuntut kita untuk aktif, kreatif, dan inovatif. Sebisa mungkin kita harus bisa improvisasi. Terlebih radio, seperti saya bilang di atas, adalah bagaimana menciptakan theatre of mind dari pendengar. 

Jadi, kesimpulannya, pertama kali saya menjadi operator live report ini tidak buruk, hanya saja, seharusnya saya bisa lebih baik dari ini. Tapi, karena saya orangnya kalau sudah grogi, deg-degan, suka parnoan, dan terjadilah kagok yang berlebihan. Menjadi operator ataupun leader a.k.a nahkoda alat ketika siaran itu susah-susah gampang, karena banyak yang harus kita kendalikan, sambil terus cuap-cuap karena ketika on air jangan sampai hening, dan otak juga harus terus bekerja memikirkan apa lagi yang harus disampaikan, sambil menaik turunkan mixer. Ah, seru sekali pokoknya. Menjadi tantangan tersendiri, mungkin saya akan bercerita di lain waktu~ 

Tapi, PR untuk saya adalah how to be a good announcer and how to make myself relax.

27/02/18

Pengalaman Pertama Kali Siaran Tandem!


Halooo, mulai hari ini sepertinya saya ingin berkomitmen untuk selalu menulis dan memposting tulisan di blog ini minimal 3 kali seminggu. Dan tulisan yang akan saya posting pun bermacam ragam. Sebelumnya, happy reading ya, hope you enjoy it!

Jadi, cerita ini dimulai ketika saya pertama kali siaran radio on air secara tandem (berdua). Siaran tandem ini adalah siaran yang dilakukan secara duet oleh penyiar. Saya merupakan penyiar baru di salah satu radio swasta di Kota saya (Jambi). Jadi, saya harus banyak latihan agar semakin lancer ketika siaran. Meskipun saya sudah mendapat program siaran sendiri. Nah, untuk memperlancar siaran itu, saya diberikan program tandem dengan penyiar senior, fyi, dia sudah 21 tahun berkecimpung di radio, dan sekarang, usia saya 20 tahun J

See? Betapa kebanting ketika saya siaran dengan beliau hahaha. Ditambah lagi olah vokalnya sudah bagus, kosa katanya kaya, dan bahasanya pun tersusun rapi, ditambah lagi beliau asyik dalam mengimbangi. Jadi, menurut saya, tandem ini kuncinya ialah bagaimana antara penyiar dapat saling mengimbangi, melengkapi, dan terjadi tiktok atau chemistry diantara keduanya supaya siarannya hidup dan tidak terkesan kaku.

Pertama kali saya siaran tandem dengan penyiar senior itu, saya minta pendapat dengan teman dan keluarga yang mendengarkan saya siaran. Jadi, kata mereka, suara saya dan suara penyiar senior itu, sebut saja A, kurang kawin. Pun begitu dengan interaksi kami, saya hanya seperti mengiyakan perkataan beliau, ya maklum lah ya baru. Hehehe.

Selain meminta pendapat, saya juga mendengarkan rekaman siaran kami malam itu, dan benar sekali, kurang ada tiktok (chemistry) antara kami berdua. Ditambah lagi suara si A ini gurihnya bukan main, berpower dan ulala pokoknya. Sedangkan saya, yah, tidak sebagus beliau. Tapi, saya percaya dengan “Learning by doing”.

Tapi, kalau saya boleh memilih sih, saya lebih suka siaran sendirian ketimbang siaran tandem. Karena menurut saya, untuk mendapatkan tiktok yang baik itu harus selalu terjadi komunikasi antara keduanya. Mungkin penyiar senior saya itu bisa mengimbangi, tapi, tetap saja saya ketara anak barunya hihi. Jadi, saya memutuskan saya lebih baik siaran sendirian, karena semasa training di radio swasta lainnya dulu, saya seringkali disuruh siaran tandem, dan ya, saya tidak begitu suka, so, I’m a single fighter.

Karena sangat sulit untuk saya bisa terjadi obrolan yang begitu “ngocol” dengan orang yang baru saya kenal. Saya bisa secair-cair mungkin, itu dengan orang yang benar-benar sering interaksi dengan saya, atau yang sudah kenal lama. Tapi, saya bukan introvert, bukan juga ekstrovert, saya diantara keduanya, saya bisa menjadi keduanya :D

Jadi begitulah pengalaman pertama saya siaran tandem:
1. Berat sebelah
2.  Kurang kawin
3. Kurang PD
4. Olah vocal yang belum baik

Nah, mungkin besok-besok setelah beberapa kali siaran tandem, saya ingin menulis tips bagaimana sih cara siaran tandem yang baik. Jadi, ditunggu aja ya, thank you J

Oh iya, buat kamu yang mau tahu gimana pengalaman saya tes menjadi penyiar radio, klik link ini ya: Pengalaman Tes Menjadi Penyiar Radio

Dan, untuk kamu yang mau tahu biasanya saya mencari materi siaran dimana? Klik link ini: Website Referensi Materi Siaran

Note: Saya masih newbie dalam siaran, tapi hanya ingin berbagi apa yang saya tahu saja, bukan sok menggurui, apalagi sombong. Dengan menulis, saya juga bisa semakin ingat.

Ada saran mau berbagi soal apa lagi? Komen yaaa..

25/02/18

IDN Times Pahlawanku ketika Siaran Radio!





Saya adalah penyiar radio (newbie) di kota tempat saya tinggal (Jambi). Ketika siaran, seorang penyiar tentu harus menyampaikan materi kepada pendengar, menjadi seorang penyiar tidaklah gampang, karena dituntut untuk selalu menyampaikan hal-hal menarik dan terkini, agar tidak kehabisan bahan saat siaran, seorang penyiar hendaknya membaca. Karena dengan membaca, tentu kita dapat menceritakan ulang, dan menjadi referensi yang dapat kita sampaikan kepada pendengar.

Selain saya memang dituntut untuk banyak tahu akan hal-hal baru atau yang sedang terkini, memang pada dasarnya, saya hobi membaca, terlebih mengenai lifestyle dan artikel-artikel ringan. Menjadi penyiar radio menurut saya unik, dan memiliki tantangan tersendiri. Terlebih, saya siaran tidak hanya di radio swasta (komersil), tetapi saya juga siaran di radio kampus (komunitas). Kedua jenis radio tersebut tentulah berbeda, pun begitu dengan materi yang saya sampaikan. Ketika saya menyampaikan isi saat siaran di kampus, biasanya lebih ke informasi formal, dan ketika saya siaran di radio tempat saya bekerja, lebih informal.

Bayangkan, berarti saya harus banyak membaca dong, ya? Hahaha. Betul sekali, sebelum on air, biasanya saya sudah menyiapkan materi apa-apa saja yang akan saya bacakan. Dan, saya sangat terbantu sekali dengan adanya website IDN Times, karena sering kali saya menyampaikan apa yang telah saya baca dari website tersebut.

Pilihan artikelnya pun beragam, jadi saya bisa memilah manakah yang cocok dengan program saya. Perlu diketahui, di radio tempat saya bekerja, saya mendapat program anak muda, yang siaran dari pukul 15.00-18.00 wib. Jadi, konten yang harus saya sampaikan adalah mengenai kids jaman now, yang bisa mendidik sekaligus menghibur para pendengar di sore hari. Karena bagi saya, meskipun materi yang saya sampaikan mengenai cinta atau suatu hubungan, tetapi tetap harus mendidik. Asik. Biasanya ketika membawakan program ini, saya sering membaca artikel di IDN Times pada tab Life, dan Hype karena beritanya cocok dengan apa yang seharusnya saya sampaikan. Pada tab Life ini, saya banyak mendapatkan referensi untuk materi yang hendak saya sampaikan ketika siaran, juga menambah wawasan saya soal kehidupan, inspirasi dan motivasi menjadi satu kesatuan di tab ini. Dan untuk materi hiburan ketika saya siaran, saya lebih sering membaca tab Hype, karena enterteint, yang sedang viral semuanya ada disini, saya sangat terbantu sekali hehehe. Wah, terima kasih IDN Times! ^^

Tulisan yang dimuat pada website IDN Times pun dikemas secara ringkas dan menarik, jadi improvisasi ketika saya siaran, tidak akan begitu sulit. Yang saya suka juga pada website ini adalah selalu up to date, dan gaya bahasanya kekinian sekali. Jadi, saya juga banyak belajar dari sini, hehehe. Karena menjadi penyiar radio itu, kata teman saya, “Wah, kamu pintar banget ya, saya banyak dapat ilmu dengerin kamu siaran.” Jadi, sepertinya penyiar radio itu smart gitu, ya. Padahal sesungguhnya adalah, website tempat dimana saya mengais informasi itulah yang pintar, hehehe (Baca: IDN Times).

Sedikit cerita lagi mengenai siaran di radio tempat saya bekerja, adalah saya terkadang harus siap menggantikan penyiar yang tidak bisa mengisi programnya. Dan itu menjadi tantangan juga bagi saya, karena tentu tiap program memiliki target pendengar dan materi yang berbeda. Karena pada program yang saya bawakan itu mengenai relationship atau friendship, tetapi terkadang saya harus membawakan program teman saya yang sesama penyiar, mengenai hal yang saya tidak ketahui, seperti K-POP, tips, parenting, entrepreneur dan lainnya. Nah, untungnya zaman sekarang sudah dimudahkan, terlebih lagi saya sudah punya website andalan, yang terpercaya dan sudah terbukti kefaktualannya.

Intinya IDN Times ini menyuguhkan informasi yang mudah dimengerti dan pengemasannya juga menarik, bahkan kita juga bisa menulis artikel, karena telah di sediakan platform untuk komunitas penulis. Dan jika dikumpulkan poin, maka bisa mendapatkan uang. Wah, harus banget dicoba nih.

Dan lagi, website IDN Times ini menyediakan berbagai informasi, terlengkap deh, ketika saya sedang siaran dikampus, dan mengharuskan untuk menyampaikan informasi yang sedikit berat, seperti pemilihan umum, ataupun politik, dan sebagainya, ada. Jadi, saya tidak perlu repot-repot untuk klik webste lain, karena disini sudah lengkap. Paket komplit, informasi lengkap dan jelas, pengemasannya menarik. Well, saya sebagai penyiar baru, sangat terbantu..

Ditambah lagi dengan rekomendasi artikel yang ditampilkan pada artikel yang sedang dibaca, membuat pembaca semakin penasaran dengan link artikel yang telah direkomendasikan. Jadi, saya sebagai penyiar radio dan sebagai seorang yang haus akan informasi (eak), sangat terbantu dengan website IDN Times ini. Ini cerita ku, mana ceritamu? Hehehe.

langsung check this out guys : IDN Times

24/09/17

Pengalaman Tes menjadi Penyiar Radio

Assalamualaikum wr.wb

Halo semuanya! Halo siapapun yang baca tulisan ini. Semoga hari-hari kalian menyenangkan.

Well, kali ini aku pengen cerita sedikit pengalaman mengikuti audisi announcer radio, di salah satu radio di kota ku, Boss Radio, Jambi.

Menjadi penyiar radio adalah salah satu dari banyaknya mimpi-mimpiku. Terjun ke dunia broadcasting adalah hal yang aku impikan. Image penyiar dimataku adalah keren, pintar, berwawasan, gaul, supel, luwes, waahh pokoknya nggak ada yang negatif deh! Terlepas dari itu semua, aku memang suka cuap-cuap layaknya penyiar. Hehe.

Meskipun aku tahu gaji penyiar radio di kotaku memang tidak besar. Tapi, siapa sih yang gak senang menjalankan hobi yang dibayar? But anyway, aku belum menjadi penyiar ya saat ini. Hihi. Tak peduli soal gaji, menjadi penyiar radio adalah jenjang karir, dan tempat untuk berproses menurutku. Sekali lagi, aku belum menjadi penyiar radio.

Karena keinginan yang kuat untuk mencari tahu mengenai recruitment announcer radio, membuat aku harus mencari lebih gencar tentang info-info tersebut. Dan ya, aku follow semua media sosial radio yang ada di kota  ku. Sampai akhirnya aku menemukanmu postingan tentang audisi menjadi penyiar di Bossfm.

Kyaaa! Dengan semangat yang menggebu-gebu aku catat satu persatu syarat untuk apply audisi tersebut. Tak lupa, aku share info tersebut ke teman-teman yang kira-kira berminat. Tapi, ternyata hanya aku saja yang berminat dan berniat untuk apply.

Syarat yang harus dipenuhi:
1. Laki-laki/Perempuan berpenampilan menarik
2. usia 18 - 23 Tahun
3. Minimal pendidikan SMA
4. Photo Copy pas PHOTO 3x4 (2 lembar)
5. Photo copy ijazah (1 lembar)
6. Photo Copy KTP (1 lembar)
7. Daftar riwayat hidup (1 lembar)
8. Rekaman suara dalam bentuk cd/dvd
9. Fasih berbahasa Inggris
10. Memiliki wawasan luas
11.Dapat bekerja dibawah tekanan serta dapat bekerja sama dengan team Management

Dan yaaah, syarat demi syarat sudah aku penuhi. Namun terkendala di rekaman suara, karena saat itu aku sedang tidak punya handphone, untungnya aku punya teman yang baik hati dan tidak sombong, jadi rekaman pakai HP dia deh, thanks dear! :* Fitria

Well, semua persyaratan sudah aku kirimkan via email, aku mengirimkan satu hari sebelum penutupan. Dan betapa kagetnya ketika keesokan harinya, ada telepon dari nomor yang tidak aku kenali, dan benar sajaa! Itu dari pihak radio. Mereka memberitahukan bahwa aku lulus bahan, dan disuruh datang pada 17 Agustus 2017 ke kantor Boss Radio dengan mengenakan baju senasionalis mungkin, dan membawa makanan yang bernuansa merah putih serta tes tertulis. (Masih dalam euforia kemerdekaan)

Aku senangggg sekali, kaget dan speechles. Ya walaupun baru lulus bahan. Akhirnya aku mikir keras baju dan makanan apa yang akan aku bawa besok. Dan baca-baca sedikit mengenai radio boss dan seputar media deh pokoknya!

17 Agustus 2017

Aku pergi tes tertulis ke radio tersebut, dengan temanku yang super baik! Julita
Tapi..... kami lupa satu hal: MENCATAT ALAMAT RADIO TERSEBUT. Oh Allah.. How stupid i am :D

Dan kalian tahu? Kami salah radio, malah menuju stasiun radio lain. Hahaha. Awkard sekali. Dan parahnya hari itu, kami tidak memiliki gadget. Jadi gak bisa googling sana sini. Setelah grasak grusuk akhirnyaa, alamat radio itu kami dapati dan langsung menuju TKP!

Waw. Betapa kaget dan malunya ketika sampai disana, sudah rame dengan orang-orang yang berpakaian nasionalis dengan memegang makanan yang merah putih. Hihi, lucunya. Dan ya, aku terlambat. L

Tips sebelum tes:
1. Persiapkan semuanya dengan baik. (Waktu, bahan, alat atau baju yang akan dikenakan hari H)
2. Survey lokasi sebelum hari H
3. Bersiap 2 jam sebelum otw

Ku pandangi satu persatu kompetitor ku hari itu. Hmm.. ada beberapa yang ku kenal. Dan tibalah saat dimana kami harus mengisi lembaran soal tes tertulis yang di pandu dengan penyiar yang suaranya gurih-gurih.

Tips ujian tertulis:
Soal tes tertulis tidak serumit soal ujian pada umumnya kok, ini sifatnya general dan mengenai radio tempat kita tes. Jadi, perbanyak info mengenai stasiun radio yang di tuju. Baik itu program atau nama penyiar radionya. Perbanyak info tentang musik, lagu, genre terbaru. Baik dari dalam ataupun luar negeri. Dan seperti biasa, kejujuran dalam menjawab harus diperhatikan.

Setelah mengisi soal, kami dipersilakan untuk shalat ashar dan berisap-siap untuk mempresentasikan makanan yang dibawa dan baju yang dikenakan. What? Kami tidak tahu tentang ini sebelumnya. *nangis di pojokan* Eh ga deng, aku wanita tangguh! HU-HA!

Okayy.. sesudah shalat kami dipanggil acak untuk mempresentasekan. Ku amati setiap kata yang dipresentasekan oleh teman-teman. Ku amati bagaimana mereka berbicara dengan sedikit gugup, dan berdiri dengan gemetar. Finally, tiba giliranku mempresentasekan. Hari itu aku mengenakan rok songket dari Palembang, Sumatera Selatan berwarna dasar merah, blouse hitam dan jilbab merah-orange. Berikut looknya.



Anyway di foto itu, kami pose ala-ala untuk mendapatkan like terbanyak. Dan aku berada di posisi kedua like terbanyak dari 17 finalis. Sebenarnya ada 21 finalis hari itu, tapi ternyata setelah presentase mereka mengundurkan diri untuk mengikuti Unjuk Bakat (Seleksi tahap selanjutnya).

Huaa! Kami bahkan tidak tahu kalau masih ada serangkaian tes lagi. Yaitu tes unjuk bakat, di salah satu Mall di Kota Jambi. 19 Agustus 2017 kami disuruh datang ke Mall WTC Batanghari Jambi untuk unjuk bakat. Saat tes tertulis kami sudah diberi arahan bahwa saat unjuk bakat, kami akan improvisasi siaran dan unjuk bakat. Bayangkan dengan waktu dua hari, bakat apa yang akan aku tampilkan? L

Akhirnya 19 Agustus 2017, aku bersama kesayangan Julita pergi ke Mall itu dengan rasa gugup dan cemas. Khawatir tidak bisa menampilkan yang terbaik. Karena bakat yang akan aku tunjukkan sungguh absurd. Hahahaha. Singkat cerita kami mengambil nomor undian, aku mendapat nomor 4. Tapi karena nomor 1 belum hadir, jadilah aku urutan ketiga.

Dan lagi, ternyata sesi 1 adalah improvisasi siaran. Kami tidak diberi materi, materi yang dibawakan adalah on the spot sesuai dengan program yang didapat ketika diatas panggung. Huhu. Aku tidak pernah ikut ajang seperti ini sebelumnya, terlebih lagi ini semuanya serba dadakan. Bahkan aku tidak pernah mendengar siaran program di radio itu secara menyeluruh. Kami hanya diberi clue saat improve siaran nanti harus ada: Opening, Materi dan Closing.

Saat tiba giliranku untuk improve siaran, aku mengambil 1 gulungan kertas putih didalam tumpukan butiran gabus didalam aquarium mini, dan aku mendapatkan program BERISIK. Beragam Informasi Tips dan Musik. Ya, hanya itu yang aku ketahui. Dengan rasa deg-degan dan pengetahuan yang terlintas begitu saja, aku cuap-cuap menyapa pengunjung WTC di weekend itu.

Tidak bisa kujelaskan bagaimana perasaan aku saat itu. Semuanya campur aduk. Hanya bismillah dan alhamdulillah yang dapat aku ucapkan. Alhamdulillah aku mendapatkan program yang Insya Allah bisa aku kembangkan materinya. Alhamdulillah walaupun on the spot, tapi tidak terlalu  begitu sangat buruk. Hehe.

Lanjut ke sesi 2, malam harinya kami unjuk bakat yang telah kami persiapkan. Kali ini kami dipanggil secara acak. Penampilan teman-teman sungguh mencengangkan, keren sekali. Ada yang nyanyi, puisi, stand up comedy, dan hanya aku yang berbeda. Ayah.. mengapa aku berbeda? :D

Aku menampilkan bakat menjadi seorang news anchor, membaca berita. Padahal sesungguhnya itu belum layak disebut bakat. Aku grogi dan tidak semangat membacakan beritanya, karena sudah down duluan, dan ngantuuukk sekali. -_-

Oh iya, lupa, ada sahabat kesayangan ku yang mendukung dengan totalitas. Selain Julita, ada Defri yang setia menemani sampai berakhirnya acara malam itu. Big thanks sudah jadi tim Hore-ku! Hahaha. You’re amazing.




Waktu berjalan setelah hari itu. Kata pihak radio, kami akan dihubungi lagi untuk interview. Karena menghubungiku bisa dibilang cukup sulit. Akhirnya aku ketinggalan info, dan aku baru tahu info ketika hari H, alhasil aku terlambat. But its okay, everythings run well.

Tiba sesi wawancara, aku diwawancarai oleh 4 orang. Deg-degan juga sih. Terlebih aku disuruh membawakan berita tentang Opik poligami dilengkapi dengan dalil yang mengizinkan poligami, ya mereka menyuruh begitu karena latarbelakangku jurnalistik islam. Hiks. Rasanya awkward sekali. Sebelum wawancara, aku take vocal dulu. Dan rasanya jijik sekali mendengar suara sendiri. Huahahaha.

Tips wawancara:
1. Jawablah dengan jujur, jangan peres (palsu).
2. Usahakan jangan grogi.
3. PD aja.
4. Keep Calm.

*Padahal sendirinya spot jantung.

Dan yah setelah semua rangkaian hari itu selesai, kami melakukan prosesi seperti biasa, seolah-olah perpisahan termanis. Sedih sih, apa lagi kalo gak terpilih. Hihi. Pesan terakhir dari pihak radio adalah

“Nanti kita kabarin ya, kalau kamu ditelfon berarti kamu terpilih tahap training, kalau enggak, ya enggak berarti. Maaf ya kalau ada yang nggak terpilih. Mungkin bukan disini jalannya, tapi percayalah diluar sana jalan terbuka luas untuk kalian.”
“paling lambat kita kabarin besok malam.”

Uhuuu.. baper deh, takut gak kepilih haha. Dan setelah menunggu dan mantengin layar handphone terus. Tiba di malam terakhir penantian, gak ada juga telfon yang masuk. Sedihnya.. okelah mungkin gak kepilih. It’s okay.

Tapiii...... tiba-tibaaa... “teman” aku bilang kalau ada dm dari boss yang bilang kalo aku terpilih tahap training. Wiihhh senangnyaa! Thanks, man! Hahahaha. Dan ternyata pihak Boss bilang kalo nomor aku sulit di hubungin. Untungnya, ada yang bukain dm ig aku. Hahahaha.

And finally, aku masuk tahap training, dan sekarang lagi proses training. Banyak banget ilmu yang didapat dari training. Love banget deh. Buat yang baca, doain ya, semoga semuanya berjalan lancar. Aamiin!